Freeport Komitmen Berikan Dana Kemitraan Hingga 2041

share on:
KETERANGAN – Senior VP Community Development & Social Responsible PTFI Claus Wamafma, VP Corporate Communications PTFI Riza Pratama, dan VP Community Relations PTFI Arnold Kayame, saat menyampaikan keterangan kepada wartawan di Resto Cendrawasih 66, Timika, Senin (2/12). Foto : Ricky/HP

Timika, HP

Pasca perubahan Lembaga menjadi yayasan. Pihak Freeport Indonesia sebagai salah satu pendonor tunggal berkomitmen untuk tetap memberikan dana kemitraan kepada Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) selama perusahaan tambang terbesar didunia tersebut masih beroperasi hingga tahun 2041.

“Terkait dengan dana kemitraan, sebenarnya yang kita bicarakan saat ini adalah bukan perubahan dana kemitraan tapi yang kita bicara adalah keberlanjutan dari dana kemitraan PT Freeport ini sudah berjalan dari tahun 1996 sampai hari ini,” Senior Vice President Community Development And Social Responsible PT Freeport Indonesia (FI), Claus Wamafma kepada wartawan di Resto Cendrawasih 66, Timika, Senin (2/12).

Claus menjelaskan, perubahan status yayasan sejatinya telah dilakukan sejak 2017 lalu, namun karena berbagai kejadian yang dialami PTFI saat itu, yang mana Kontrak Karya (KK) diubah menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) sehingga perubahan status lembaga menjadi yayasan baru dilakukan akhir 2019.

“Kita akan memasuki fase baru, dimana LPMAK sebagai pengelola dana kemitraan berubah dari lembaga menjadi yayasan. Karena ada beberapa pertimbangan dari sisi regulasi yang kemudian membuat keputusan ini diambil, sebenarnya dari 2017 dan bagaimana keberlanjutannya menjadi yayasan itu akan menjadi kemudahan bagi LPMAK untuk mencari pendanaan setelah operasi 2041. Ini juga memberikan ruang bagi LPMAK untuk melihat potensi lain untuk dikembangkan,” jelasnya.

Claus juga mengungkapkan, 1% dana kemitraan yang selama ini diberikan kepada LPMAK untuk dikelola demi pengembangan masyarakat tetap akan diberikan secara berkelanjutan hingga tahun 2041 atau akhir masa IUPK. Tentunya dana kemitraan yang setiap tahunnya diberikan kepada pihak yayasan akan disesuaikan dengan hasil produksi dan penjualan. Artinya, apabila hasil produksi dan penjualan menurun maka akan berdampak pada dana kemitraan tersebut.

“Terkait dengan dana kemitraan, saya selalu sampaikan bahwa ini keberlanjutan. Jadi, kita hanya melanjutkan apa yang sudah ada tahun 1996 dilanjutkan sampai 2041. Ini adalah komitmen dari perusahaan,” ungkapnya.

Claus menambahkan, tentunya akan ada evaluasi program yang telah sukses dilakukan dan belum maksimal dilaksanakan. Ke depan program yang diturunkan kepada masyarakat hampir sama dengan Dana Desa (DD) dari pemerintah, sehingga masyarakat akan diberikan kesempatan menyusun rencana-rencana untuk pembangunan kampung agar dilaksanakan, dan pihak YPMAK akan mengalokasikan dana untuk program pada beberapa kampung sebagai pilot project.

“Untuk evaluasi tentunya jalan. Apa yang sudah ada hari ini dan sudah sukses dan apa yang masih kurang, itu yang akan kita lakukan dengan dana kemitraan. Yang menjadi mimpi ke depan adalah bagaimana kita coba balik prosesnya,” terangnya.

Claus berharap, program-program yang telah sukses dilaksanakan ke depan terus dijalankan, dan program yang belum dilaksanakan ke depan akan menjadi prioritas. Selain itu, Claus juga berharap adanya kerja sama dan pengawasan dari berbagai pihak, baik dari Freeport, lembaga adat maupun masyarakat. “Apa yang kita harapkan dari kerja sama itu adalah control. Jadi, saling mengingatkan dan itu yang kita lebih terbuka dan saling menilai,” ujarnya.

Kesempatan yang sama, Vice President Corporate Communication PTFI Riza Pratama mengungkapkan, dalam beberapa tahun terakhir terjadi penurunan produksi dan penjualan sehingga berpengaruh pada dana kemitraan. Meski demikian, Riza optimistis dana kemitraan yang diberikan akan kembali normal pada awal 2022 mendatang, yang mana operasi tambang bawah tanah sudah mulai beroperasi.

“Freeport itu dalam masa transisi dari open pit ke underground. Masa transisi itu open pit akan berakhir pertengahan tahun dan underground ini belum mencapai produksi yang optimal. Hampir 50 persen turun itu mengakibatkan dana kemitraan itu akan berdampak, tapi itu sementara cuma tiga tahun dan mungkin tahun 2022 produksi underground kita sudah hampir sama dengan sebelum transisi,” papar Riza. (rik)

share on:

Leave a Response