81 Warga Timika Positif Terinfeksi Demam Berdarah

share on:
Obet Takege

Timika, HP

Penularan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) makin parah di Timika. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika mencatat sejak 24 Desember 2018 hingga Kamis (14/3/2019) sebanyak 81 warga yang positif terinfeksi virus dengue dari nyamuk aedes aegypty.

Meski grafik peningkatan kasusnya cukup signifikan, Pemkab Mimika melalui Dinkes belum juga menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD.

“Dinkes Provinsi Papua sudah nyatakan Mimika KLB, tapi Dinkes Mimika belum karena belum dikoordinasikan ke pimpinan daerah,” kata Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Mimika, Obet Tekege saat dikonfirmasi, Kamis (14/3/2019).

Kasus DBD terjadi paling banyak di Distrik Mimika Baru khususnya di Kelurahan Pasar Sentral. Di kelurahan itu saja, sebut Obet, terlaporkan 32 kasus positif DBD. Kasus lain menyebar pada beberapa kelurahan dan distrik terutama di seputaran Kota Timika. “Wilayah-wilayah itu padat permukiman,” ungkapnya.

Sebagai langkah pencegahan, pihaknya sudah memasifkan kampaye 3M plus, baik secara langsung di lapangan maupun melalui siar radio. Fogging dan pembagian bubuk abate pun dilakukan terutama di lingkungan dimana ditemukan pasien DBD.

“Kami sudah bertemu Kepala Distrik Mimika Baru dan pegawai kelurahan agar bersama-sama menanggulangi tingginya penularan DBD ini. Pihak kepolisian juga nyatakan siap mendukung,” kata Obet.

Pihaknya saat ini mengantisipasi ketersediaan logistik. Pasalnya, persediaan obat di Instalasi Farmasi Kabupaten (IFK) mulai menipis. Surat permintaan obat sudah dilayangkan ke Dinkes Provinsi Papua.

Ganasnya DBD di Timika bukan hanya terlihat dari grafik kasus yang makin menanjak, tapi penyakit itu telah menelan korban jiwa. Seorang anak usia 6 tahun bernama Rangga Tanggulungan meninggal dunia pada Sabtu (3/3/2019) lalu karena DBD.

Dari seluruh pasien DBD di Timika, sebut Obet, 85 persennya terjangkit melalui penularan lokal. Artinya, nyamuk aedes aegypty yang menularkan virus dengue telah berkembang pesat di Kota Timika.

Masyarakat Mimika sudah harus paham dan bertindak bersama dalam upaya pemberantasan dan pencegahan DBD. Apalagi Kota Timika dengan kondisi sekarang sangat ramah untuk DBD. Hujan mengguyur setiap hari sebabkan genangan air dan sampah berserak dimana-mana. Genangan air seperti pada sampah botol plastik dan sejenisnya menjadi media perkembangbiakan efektif bagi nyamuk aedes aegypty.

Langkah terbaik yang bisa dilakukan saat ini adalah setiap rumah tangga bertanggung jawab membersihkan lingkungannya dari sarang nyamuk. Berikutnya, segera datang ke Fasyankes apabila ada anggota keluarga yang mengalami gejala panas tinggi.

Fogging hanya efektif membunuh nyamuk dewasa. Langkah pencegahan yang paling disarankan adalah 3M plus yakni Mengubur, Menutup dan Menguras. Plus-nya merujuk pada  kegiatan pencegahan DBD lainnya, seperti menaburkan bubuk abate pada tempat penampungan air, menggunakan obat anti nyamuk, memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, menanam tumbuhan pengusir nyamuk dan mengatur cahaya dan ventilasi rumah. (bur)

share on:

Leave a Response