Selama 2019 RSMM Tangani 61 Kasus Gizi Buruk

share on:

Timika, HP

Rumah Sakit Mitra Masyarakat RSMM  Timika menangani 61 kasus gizi kurang dan gizi buruk dengan rata-rata  tiga sampai  enam kasus perbulan sepanjang tahun 2019. Angka tersebut tidak termasuk bulan Desember.

Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSMM Timika dr Theresia Nina N mengatakan pasien gizi kurang dan gizi buruk biasanya ditemukan saat mereka masuk ruang rawat inap dengan keluhan penyakit diare kronis, malaria, infeksi saluran pernapasan akut atau ispa dan lainnya. Namun setelah dilakukan penilaian lebih lanjut, ternyata pasien tersebut juga mengalami kondisi gizi kurang, bahkan gizi buruk.

“Yang paling dominan masyarakat asli. Kalau masyarakat non Papua paling satu dua kasus saja. Selain dari wilayah sekitar Timika, ada juga satu dua pasien yang dirujuk dari pedalaman dan kabupaten tetangga seperti dari Asmat, Puncak dan lainnya,” ungkapnya.

Nina menyebut setiap bulan RSMM Timika selalu melaporkan temuan kasus gizi kurang dan gizi buruk kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika.  Hal itu dalam rangka adanya dukungan Dinkes melalui Puskesmas setempat dalam hal pemberian asupan gizi tambahan kepada pasien setelah kembali ke rumah.

Dokter Nina menyebut masih adanya temuan pasien gizi kurang atau gizi buruk di wilayah Timika setiap bulan, sebagian besar faktor pemicunya karena kemampuan ekonomi keluarga yang masih minim untuk memenuhi asupan gizi anak-anak dalam masa pertumbuhan.

“Rata-rata pasien yang mengalami gizi kurang dan gizi buruk merupakan anak-anak di bawah usia lima tahun. Selain karena kemampuan ekonomi keluarga yang kurang, faktor pemicu lainnya yaitu tingkat pengetahuan dan pendidikan orang tua masih minim dalam hal pemberian nutrisi kepada anak,” jelasnya.

Belum lagi tentang pengetahuan hidup bersih dan sehat  di kalangan masyarakat lokal juga masih minim, demikianpun menyangkut pengetahuan tentang gizi dan penyakit-penyakit menular dasar juga masih membutuhkan edukasi terus-menerus.

Dalam banyak kasus, katanya, pasien terdiagnosa gizi kurang dan gizi buruk setelah mendapat penanganan di rumah sakit lalu kembali ke rumah tidak lama kemudian kembali lagi ke rumah sakit dengan kondisi seperti semula.

“Sering sekali setelah kami tangani dan berat badan pasien naik, lalu petugas kilinis memberikan edukasi kepada orang tua, nanti setelah balik ke rumah tidak lama kemudian kembali lagi ke rumah sakit karena gizinya kurang. Itu persoalan kita. Kami di rumah sakit tidak mengetahui sejauhmana kondisi sosial ekonomi keluarga itu,” jelasnya.

Menurut dokter Nina, penanganan pasien gizi kurang atau gizi buruk tidak bisa hanya dibebankan kepada jajaran yang bergerak di bidang kesehatan seperti Dinas Kesehatan, rumah sakit, dan Puskesmas tetapi membutuhkan dukungan dan kerja sama lintas sektoral, terutama Pemerintah Daerah dalam hal memperbaiki kualitas kesejahteraan masyarakat.

“Kalau kondisi ekonomi keluarga cukup baik, tentu pemenuhan asupan gizi anak selama masa pertumbuhan tercukupi. Bagaimana solusinya untuk membuat ekonomi semua keluarga punya daya tahan yang cukup, ini pekerjaan besar bangsa ini, bukan semata pekerjaan dan tanggung jawab orang kesehatan tapi butuh dukungan dari semua pihak. Tidak mungkin orang kesehatan bisa bekerja sendiri tanpa suport dari sektor lain, apalagi di Papua masalah demografi dan geografis, level pendidikan dan pengetahuan masih membutuhkan usaha yang lebih ekstra lagi,” kata Nina. (sel)

share on:

Leave a Response