BNNK Mimika Ungkap Modus Baru Peredaran Sabu di Kota Timika

share on:
MUSNAHKAN - Kepala BNNK Mimika Kompol Mursaling memimpin pemusnahan barang bukti narkotika jenis sabu, Kamis (23/5), yang diamankan dari tersangka RC. Foto : Bur/HP

 

“Dalam kasus ini, RC diarahkan ke pinggir Jalan Budi Utomo,

depan warung sate depan Toko Eiger. Jadi, mata rantai terputus antara HS dan RC,

mereka tidak saling kenal. Si penghubung tak diketahui”

 

Timika, HP

Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Mimika mengungkap modus baru peredaran narkotika jenis sabu di Kota Timika. Modus operandi baru itu terungkap melalui penangkapan tersangka berinisial RC pada Kamis (2/5) lalu.

Kepala BNNK Mimika, Komisaris Polisi (Kompol) Mursaling mengungkap 7,12 gram sabu yang diamankan dari RC dikendalikan dari Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Modusnya, RC menghubungi seseorang bernama HS di Makassar untuk memesan sabu.

Selanjutnya RC mentransfer uang sebanyak Rp19 juta ke HS tapi di rekening atasnama NS. HS lalu menghubungi utusannya di Timika menaruh sabu yang dipesan di tempat yang telah ditentukan. HS tinggal mengarahkan RC ke tempat yang telah ditentukan itu.

“Dalam kasus ini, RC diarahkan ke pinggir Jalan Budi Utomo, depan warung sate depan Toko Eiger. Jadi, mata rantai terputus antara HS dan RC, mereka tidak saling kenal. Si penghubung tak diketahui,” ungkap Mursaling pada pemusnahan barang bukti di Kantor BNNK Mimika, Kamis (23/5).

Setelah dibuntuti anggota BNNK Mimika, RC berhasil dibekuk di Jalan Kartini pada Kamis (2/5) lalu. Dari penangkapan tersebut, berhasil diamankan barang bukti sembilan paket sabu yang dillit lakban coklat disimpan dalam bungkus rokok.

Pengakuan RC, sembilan paket sabu itu akan dijual ke pengedar di Kota Timika. Selama enam bulan melakoni pekerjaannya, RC telah empat kali memesan paket sabu ke HS di Makassar. Satu gram sabu ia jual seharga Rp2,3 juta.

Dengan modus operandi peredaran sabu yang demikian, terbuka kemungkinan HS masih memiliki jaringan seperti RC di Kota Timika. “HS sudah kami tetapkan jadi DPO (Daftar Pencarian Orang). Kami sudah berkoordinasi dengan BNN Provinsi Papua dan Sulsel untuk mengejar HS,” kata Mursaling.

Atas perbuatannya, RC diancam pidana Pasal 112 Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman minimal empat tahun penjara. “Pemberatan di pasal 114 ayat (1) dan (2), itu bisa seumur hidup,” kata Mursaling. (bur)

share on:

Leave a Response