Freeport Sudah Gelontorkan 700 Juta US Dollar untuk LPMAK

share on:

Timika, HP

Sejak Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) berdiri hingga tahun 2018 lalu, PT Freeport Indonesia (PTFI) telah menggelontorkan anggaran kemitraan sebesar Rp700 juta US Dollar.

“Mulai LPMAK berdiri tahun 1996-2018, dana kemitraan yang sudah dikucurkan oleh PTFI kurang lebih sekitar hampir 700 juta US Dollar,” kata SVP Community Development & Social Responsible PTFI, Claus Wamafma dalam jumpa pers di Resto Cendrawasih 66, Timika, Senin (2/12).

Claus menyebut dari dana kemitraan itu telah dilakukan pengawasan terhadap LPMAK secara rutin melakukan audit internal khususnya menyangkut keuangan. Begitu juga dari PTFI, juga melakukan audit terhadap sistem keuangan yang ada, dengan melakukan beberapa penilaian.

“Dari itu kami mulai melihat bagaimana kedepan. Apalagi adanya perubahan dari LPMAK menjadi YPMAK. Dan undang-undang tentang yayasan mengharuskan melaporkan semua penggunaan dana kepada publik,” ujarnya.

Claus juga menerangkan, dengan perubahan lembaga menjadi yayasan, maka kedepannya terdapat pengawas dari perwakilan beberapa pihak, mulai Freeport, lembaga adat (Lemasa dan Lemasko). “2020 nanti merupakan ‘the real transision’ (transisi yang sebenarnya). Bukan menyangkut kelembagaan tapi juga program,” ujarnya.

Claus menjelaskan, untuk masalah kelembagaan, sekarang ini tengah dilakukan proses pengakuan. Atau keabsahan secara hukum, dengan mendaftarkannya di Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham). “Penyelesaian status kelembagaan ini penting, karena ini menyangkut ‘kendaraan’ dalam melakukan pengelolaan. Dan menyangkut proses pendanaan,” terangnya.

Sementara menyangkut program, kita akan melihat program-program kedepan. Apa yang menjadi hambatan dan program apa yang tidak perlu dilakukan. Serta koordinasi dengan pihak-pihak terkait. “Ini dilakukan, karena sudah banyak kenyataan program-program yang tumpang tindih dengan pihak lainnya, khususnya pemerintah daerah,” kata Claus.

Misalnya pemerintah membangun sekolah ditempat tertentu, LPMAK juga bangun sekolah dititik yang sama. Karenanya dibutuhkan koordinasi kedua belah pihak. Sehingga kita bisa menghindari duplikasi program. Begitu juga dengan pemberian bantuan usaha, beasiswa, dan lainnya. “Bukannya kami hindari untuk tidak melakukan. Tapi harus dikelola dengan baik, agar kemanfaatannya bisa dirasakan banyak orang,” ujarnya.

Ia menambahkan, tentunya selama LPMAK berdiri, kita memiliki banyak catatan. Tetapi menjadi internal PTFI untuk melihat semua aspek. Ini dilakukan, karena Freeport masih donator tunggal dan menjadi bahan evaluasi.

“Intinya, pendirian LPMAK atau YPMAK, tidak hanya menyangkut uang dan program. Tapi lebih kepada bahwa tempat tersebut jadi wadah bagi anak-anak asli Papua untuk belajar berorganisasi, mengelola, dan menata diri. Sehingga bisa menjadi pemimpin untuk daerah ini,” ungkapnya.

Sementara itu, VP Corporate Communications PTFI, Riza Pratama menambahkan, saat ini PTFI dalam masa transisi, dari penambangan terbuka ke underground. Pada masa tersebut, akan berakhir pertengahan tahun depan.

Dari itu, penambangan underground belum mencapai produksi yang optimal. Dan ini menyebabkan produksi menurun. Dimana penurunannya, diperkirakan mencapai 50 persen dan berdampak pada pemberian dana kemitraan. “Dengan penurunan produksi, akan berdampak pada dana 1 persen. Tapi setelah tiga tahun, kemungkinan 2022 produksi underground sudah hampir sama dengan sebelum transisi,” ungkapnya. (rik)

share on:

Leave a Response