Didukung Freeport Indonesia, KSDA Papua Lepas 5100 Tukik Moncong Babi Hasil Sitaan

share on:
SERAHKAN - Asisten Sekda Mimika Demianus Katiop menyerahkan tukik kura-kura mocong babi secara simbolis kepada Kepala Balai Besar KSDA Papua Edward Sembiring untuk dilepasliarkan, Selasa (14/5). Foto : Ryeno guritno/ HP

Timika, HP

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Papua (Ditjen KSDA KLHK) bersama Polda Papua, Pemkab Mimika dan Forkopimda Mimika yang didukung dan difasilitasi PT Freeport Indonesia (PTFI) melakukan pelepasliaran anakan (tukik) kura-kura moncong babi sebanyak 5.100 ekor di Sungai Minajerwi, Kampung Nayaro, Distrik Mimika Baru, Selasa (14/5).

Kura-kura moncong babi tersebut merupakan hasil sitaan Polda Papua dari praktik illegal pada 20 Februari 2019 sebanyak 589 ekor dengan rincian 297 dalam keadaan hidup dan 292 dalam keadaan mati. Kemudian hasil sitaan 26 Maret 2019 sebanyak 5.247 ekor dengan rincian 4.875 dalam keadaan hidup dan 372 dalam keadaan mati.

Sebelum pelepasan, terlebih dahulu dilakukan serah terima tukik moncong babi secara simbolis oleh Pemkab Mimika di kandang transit Mile 21 PTFI, tempat dimana ribuan tukik tersebut dititipkan. Setelah adanya penetapan pengadilan dan mempertimbangkan kesejahteraan satwa (animal welfare) maka satwa tersebut harus segera dilepasliarkan.

Lokasi lepas liar ditentukan berdasarkan survei yang dilakukan Balai Besar KSDA Papua besama pihak terkait di Kampung Nayaro pada 23-25 Februari 2019. Survei dilakukan untuk identifikasi kesesuaian habitat dan potensi ancaman serta sosial budaya masyarakat sekitar. Hal tersebut diperlukan untuk menjamin keberlangsungan hidup satwa setelah dilepasliarkan.

Kepala Balai Besar KSDA Papua Edward Sembiring SHut MSi dalam sambutannya menyampaikan bahwa proses hukum terhadap pelaku perdagangan ilegal satwa kura-kura moncong babi tersebut tetap dilakukan.

Edward berharap pelaku diberikan sanksi pidana seadil-adilnya agar dapat memberikan efek jera. Pada prinsipnya yang dilindungi seperti kura-kura moncong babi dapat dimanfaatkan, asalkan memperhatikan prinsip-prinsip kelestarian berdasarkan peraturan yang berlaku. “Kegiatan hari ini adalah mengembalikan satwa liar ke habitatnya, dengan harapan akan dapat meningkatkan populasi di habitatnya,” ucapnya.

Kesempatan itu, Edward menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak yang mendukung dan dan membantu KSDA, baik di Kabupaten Mimika maupun Balai Besar KSDA Papua. “Terima kasih kepada pihak kepolisian, masyarakat adat dan Pemkab Mimika beserta Forkompinda dengan aktif upaya pelestarian satwa liar khususnya satwa kura-kura moncong babi,” ungkap Edward.

Mewakili Bupati Mimika, Asisten Sekda Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Demianus Katiop menyampaikan bahwa Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman sumber daya alam hayati dikenal sebagai negara yang memilikidaftar panjang mengenai perburuan satwa yang dilindungi.

Hal itu terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian satwa dan menjadikan satwa-satwa ini untuk kepentingan ekonomi pribadi.

“Seperti yang kita lihat selama ini marak terjadi penjualan satwa-satwa yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak betanggung jawab. Kami pemerintah kedepannya akan bekerjasama dengan BKSD dan semua pihak untuk melakukan pengawasan, karena ini demi daerah kita juga,” kata Demianus.

Pemkab Mimika juga menyampaikan penghargaan kepada pihak kepolisian dalan hal ini Polda Papua yang dengan prestasinya sudah bisa mengungkap kasus penyelundupan satwa liar tersebut. Dengan demikian, hewan endemik di Kabupaten Mimika bisa dilestarikan dan terhindar dari kepunahan. (reg)

share on:

Leave a Response