LPMAK Resmi Berubah Status Jadi Yayasan

share on:

Timika, HP

Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) secara resmi mengubah status menjadi yayasan. Perubahan status itu disepakati dalam rapat luar biasa Badan Pengurus dan Badan Musyawarah (BP/BM) LPMAK di Hotel Arya Duta, Makassar, Sulawesi Selatan, 13 Juni 2019 lalu.

Hal itu diungkapkan tim transisi LPMAK yang sudah dibentuk untuk mengambil alih tugas kesekretariatan, dalam jumpa pers di Hotel Horison, Timika, Rabu (19/6).

Tim transisi tersebut terdiri atas Ketua Tim Bidang Operasional Abraham Timang, Ketua Tim Bidang Pembentukan Yayasan Baru, Dominikus Mitoro, dan Ketua Tim Transisi Bidang Kompensasi dan Penyelesaian Industrial, Nathan Kum. Turut hadir dalam jumpa pers itu Ketua DPRD Mimika Elminus Mom.

Dalam kesempatan itu, Elminus Mom menyampaikan beberapa poin mengenai perubahan status LPMAK menjadi yayasan. “Rapat luar biasa BP/BM LPMAK pada 13 Juni 2019 di Hotel Arya Duta Makasar, telah memutuskan mengubah LPMAK menjadi yayasan,” ungkapnya.

Elminus menyebut, rapat itu juga memutuskan pembentukan tim transisi yang terdiri dari perwakilan LPMAK, PT Freeport Indonesia (FI), Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (Lemasa), Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro (Lemasko), pemerintah daerah, denominasi gereja, dan perwakilan akademisi.

“Tim transisi bertugas mengambil alih pelaksanaan program dan operasional LPMAK. Selanjutnya tim transisi bekerja sejak 13 Juni 2019 sampai dengan terbentuknya yayasan. Dalam proses transisi ini, kegiatan program dan operasional LPMAK akan berjalan seperti biasa,” ujarnya.

Elminus mengungkapkan, walaupun status LPMAK berubah jadi yayasan, PTFI tetap berkomitmen memberikan dana kemitraan.

Sementara itu, mantan Sekretaris Eksekutif LPMAK Abraham Timang mengatakan, tim transisi yang sudah dibentuk bertugas mengambil alih pelaksanaan program dan operasional LPMAK sejak 13 Juni hingga 31 Desember 2019. “Selama tim transisi bekerja, tidak ada program yang diubah. Semua program yang dirancang sejak awal, tetap akan dijalankan yang meliputi bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi maupun infrastruktur,” ungkapnya.

Abraham menjelaskan, seluruh biro yang meliputi biro pendidikan, kesehatan, ekonomi dan infrastrukur akan bernaung dibawah Ketua Tim Transisi Bidang Operasional. “Dalam perubahan nama ini tidak ada program yang diubah. Program kerja dan anggaran yang sudah ditetapkan, tetap dijalankan seperti biasa. Tidak ada perubahan sedikit pun dalam hal ini,” ungkapnya.

Tim Transisi Pembentukan Yayasan akan bekerja penuh selama enam bulan hingga 31 Desember 2019. Mereka pun yang akan menggodok nama baru untuk menggantikan LPMAK, sekaligus mengurusi legalisasi hukumnya.

Sementara untuk Tim Transisi Bidang Kompensasi dan Penyelesaian Industrial akan mengurusi segala bentuk penyelesaian hak-hak karyawan.

“Tim ini akan mengurusi segala hak karyawan, karena semua karyawan di LPMAK akan diputihkan, termasuk saya. Artinya mulai Januari nanti kami semua secara otomatis tidak lagi masuk sebagai karyawan yayasan. Pengurus yayasan baru yang akan merekrut sesuai aturan main yang baru berdasarkan kebutuhan,” jelas Abraham.

Abraham menyebut, saat ini jumlah karyawan LPMAK sebanyak 142 orang yang terbagi atas 128 karyawan permanen dan 14 tenaga kontrak. Pembayaran kompensasi nanti merujuk pada aturan Undang-Undang Tenaga Kerja dan aturan kepegawaian lembaga.

“Ini adalah kewenangan tim transisi. Atas perubahan ini tim punya komitmen untuk menyelesaikan hak-hak dan tidak akan merugikan, termasuk menyelesaikan persoalan aset kita di Mimika maupun luar daerah,” ujarnya.

Abraham menerangkan, perubahan tersebut tujuanya hanya untuk memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat. Karena itu, semua pihak yang berkepentingan, baik para tokoh, lembaga adat maupun pihak gereja diharapkan dapat memberikan dukungan.

“Karena perubahan ini untuk kepentingan masyarakat yang menjadi sasaran (masyarakat 7 suku). Tim transisi ini juga tidak secara otomatis langsung menjadi pengurus yayasan, karena tim ini akan dibubarkan pada 31 Desember nanti,” ungkapnya.

Abraham juga menjelaskan bahwa perubahan nama dari LPMAK ke yayasan dimaksudkan agar semakin menguatkan legitimasi hukum. Hal ini juga berdampak dari adannya perubahan divestasi saham 51,2 persen PTFI oleh pemerintah.

“Secara hukum legalitas kita akan semakin kuat dan akan dikenal orang banyak. Perubahan divestasi saham juga berpengaruh sehingga sumber dana dari PTFI ke lembaga pengelola harus memiliki legalitas yang jelas. Saat ini plat merah kuasai saham PTFI, maka banyak hal akan dipertaruhkan, dan secara otomatis juga akan mengalami perubahan menuju ke arah yang lebih baik,” paparnya. (zhu)

share on:

Leave a Response