Mama-mama Pedagang Amor Menolak ke Pasar Sentral

share on:
PEDAGANG - Mama-mama pedagang asli Amor, dari kiri ke kanan; Alegonda Nokoro, Magadalena Magal, Paula Nagapulugol, Ema Natkime dan Teresia Wanmang. Foto : Bur/HP

Timika, HP

Bagi Pemkab Mimika, menertibkan pedagang dan mama-mama Papua adalah solusi paripurna menyelesaikan masalah kebersihan di kompleks eks pasar swadaya atau pasar lama di Jalan Bhayangkara.

Tapi bagi sebagian mama-mama Papua khususnya Suku Amungme Kamoro (Amor), persoalan tak selesai di situ. Mereka kini menghadapi kesulitan ekonomi karena kehilangan tempat berjualan.

Solusi Pemkab Mimika adalah mengarahkan mereka ke Pasar Sentral. Di sana sudah ada gedung khusus yang dibangun untuk Mama-mama Papua.

Tapi bagi Mama-mama Amungme Kamoro, itu bukan solusi. Di Pasar Sentral mereka diusir oleh pedagang yang duluan di sana. Kembali berjualan di pasar lama, aparat Satpol PP sudah menunggu.

Lima Mama-mama Amungme Kamoro, Alegonda Nokoro, Magadalena Magal, Paula Nagapulugol, Ema Natkime dan Teresia Wanmang pada Kamis (16/5) mewakili rekan-rekannya, mendatangi Kantor Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (Lemasa) melaporkan situasi mereka dan meminta advokasi.

“Kami ke pasar sentral tapi pedagang di sana bilang itu tempat mereka punya dan kami diusir. Kami kembali berjualan di pasar lama tapi Satpol PP marah dan dengan paksa pindahkan kami lagi,” cerita Teresia Wanmang kepada wartawan.

Masalah berikutnya adalah biaya transportasi. Theresia mengaku, dari Kwamki Narama ke Pasar Sentral bisa menghabiskan biaya Rp60 ribu pergi pulang. Jumlah itu berat bagi pedagang kecil seperti dirinya dan rekan-rekan yang lain.

Mereka berharap Pemkab Mimika menyiapkan lokasi berjualan sendiri bagi Mama-mama Amungme Kamoro.

Gayung bersambut, Mama Alegonda Nokoro mengatakan di Pasar Gorong-Gorong terdapat lokasi yang bisa digunakan oleh Mama-mama Amungme Kamoro. Lokasi itu bisa diterima oleh Mama-mama Amungme Kamoro karena cukup strategis dan tak memakan biaya transportasi yang besar. Cuma soalnya, pasar gorong-gorong juga jadi target penertiban.

“Di pasar gorong-gorong ini, pimpinan sebelumnya Klemen Tinal pernah melakukan peletakan batu pertama untuk bangun pasar, tapi sampai sekarang tertinggal. Kalau boleh, pemerintah bisa manfaatkan itu kembali untuk bisa bangun lagi pasar yang layak agar bisa ditempati mama-mama dari pasar lama,” tutur Alegonda.

“Kami mau bupati buat pasar di tempat lain lagi untuk mama-mama Papua. Kalau tidak buat tempat lain, itu bupati tidak kasihan dengan masyarakat, karena suruh pindah di pasar sentral tapi tidak ada tempat kosong di sana,” ungkapnya.

Staf Bagian Hak Ulayat Lemasa, Melianus Omabak SE yang menerima kelima mama-mama Amungme Kamoro itu mengaku siap memfasilitasi pertemuan dengan Pemkab Mimika.

“Kami minta sediakan satu tempat khusus untuk mama-mama Amungme dan Kamoro, tidak ada orang lain lagi yang bergabung dan biarkan mereka jualan dengan cara mereka sendiri,” kata Melianus. (bur)

share on:

Leave a Response