Master Plan Ekowisata Mangrove Berbentuk Karaka

share on:
Tampak Master Plan Ekowisata Mangrove yang berbentuk karaka saat di paparkan oleh konsultan/ Foto : Ryeno Guritno/HP

 

Timika, HP

Master Plan Ekowisata Mangrove di Poumako direncanakan bebentuk hewan khas Mimika yaitu kepiting Bakau atau sering disebut Karaka. Master Plan Ekowisata Mangrove tersebut dipaparkan oleh konsultan proyek tersebut pada rapat koordinasi terkait pembukaan sementara dan pengelolaan serta pengembangan ekowisata mangrove di Kantor Bappeda, Rabu (22/01/2020).

Dalam Master Plan dijelaskan, luasan Ekowisata Mangrove direncanakan seluas 21 hektare yang didesain membentuk kepiting bakau (Karaka). Pembangunan Ekowisata tersebut direncanakan dalam tiga tahap yaitu mulai tahun 2020 sampai tahun 2022. Selanjutnya Ekowisata tersebut direncanakan memakan estimasi anggaran senilai Rp 56.112.990.500 yang di bagi tiga tahun pelaksanaan.

Di dalam tempat wisata tersebut nantinya terdapat fasilitas pendukukng seperti Kantor pengelola, ATM Center, Parkir, Cafe, Home Stay dan Restoran. Selain itu juga dilengkapi dengan dermaga wisata untuk kedatangan wisatawan dari arah laut. Selanjutnya untuk panjang titian jalan sepanjang 3.194 meter yang juga dilengkapi Gazebo untuk istirahat sebanyak empat Gazebo. Selain itu juga disediakan tempat spot untuk memancing, gedung serbaguna dan menara pemantau.

Wakil Bupati (Wabup) Mimika Johannes Rettob saat ditemui usai rapat koordinasi mengatakan, dari master plan yang dipaparkan tersebut masih ada yang kurang dan harus ditambahkan. Hal tersebut dikarenakan masih ada kekurangan antara konsep dengang master plan tersebut. Konsep yang dituangkan dalam master plan masih yada yang kurang sehingga masih ada yang kurang dan harus ditemabahkan agar lebih manjadi sempurna.

“Master plan itu harus searah dengan konsep saya lihat masih ada yang kurang. Jadi bukan berarti master plannya haeus dirubah tetapi harus ditambah beberapa poin,” kata Wabup.

Terkait Master plan yang baru saja di paparkan tetapi pembangunannya sudah dilakukan terlebih dahulu Wabup menjelaskan, sebenarnya mengapa pembangunannya harus lebih cepat hal tersebut di lakukan untuk mengejar pelaksanaan Pesparawi dan PON 2020, ternyata pembangunan tersebut sudah dilakukan sesuai dengan master plan dan tinggal dilakukan penyesuaian-penyesuaian.

“Sebenarnya master plan dibuat baru detail desainya baru pekerjaan fisik dimulai itu butuh waktu kira-kira dua tahun lah. Tapi ini langsung sejalan dan tujuannya untuk mengejar Pesparawi dan PON saja,” jelasnya.

Wabup menambahkan konsep dasar secara keseluruhan sudah ada tatapi pihaknya hanya membikin untuk bisa menjula tempat wisata tersebut pada saat Perparawi dan PON. Tetapi pembangunan ini akan berlangsung sesuai dengan perencanaan.

“Ya kan ditargetkan tahun 2022 selesai tapi kalau dalam tahun depan sudah bisa diselesaikan nanti kita lihat saja,” ujarnya.

Dalam rapat koordinasi tersebut membahas bagai mana kedepan pengelolaan dari Ekowisata mangrove tersebut dari masukan masukan pihak pihak terkait antara lain dari pihak Dinas pemuda olahraga dan pariwisata (Disporapar), Dinas perikanan, Distrik Mimika Timur, Dinas perhubungan, Lembaga Adat Lemasko, satpol airud, Polsek pelabuhan, Badan pendapatan daerah (Bapenda), Usaid lestari dan BKSDA Mimika. (reg)

share on:

Leave a Response