Soal Kenaikan Harga Bawang, Disperindag Tak Bisa Berbuat Banyak

share on:
Bernadinus Songbes Foto: bur/HP

Timika, HP

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperinsdag) mengaku tak bisa berbuat banyak terkait lonjakan harga bawang putih yang cukup drastis. Dimana sebelumnya hanya Rp40.000 naik jadi Rp80.000. Soal ini,.

“Kita juga punya keinginan untuk membantu masyarakat untuk menekan harga barang, tapi kita telusuri asal usul barang ini (bawang putih) memang agak susah,” kata Kepala Disperindag Mimika, Bernadinus Songbes kepada wartawan, Rabu (15/5).

Menurutnya, produksi nasional bawang putih memang tak sanggup memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh wialayah Indonesia. Satu-satunya cara adalah impor.

“Bawang putih sama sekali tidak bisa tekan, karena ini impor. Mekanisme pengangkutannya rumit dan terbatas,” katanya.

Hasil pantauan beberapa hari lalu di Pasar Sentral Timika, kenaikan harga tak hanya terjadi pada barang-barang yang didatangkan dari luar Timika. Sayur mayur yang diproduksi lokal pun ikut naik. Terkait ini, Songbes beralasan, faktor cuaca jadi faktor utama.

“Curah hujan tinggi sayur busuk,” ujarnya.

Kementerian Perdagangan telah menginstruksikan bupati dan walikota melalui OPD teknis untuk mendata, merekap dan melaporkan perkembangan harga setiap item barang yang beredar di pasaran.

Setiap akhir bulan, kata Songbes, instansinya mengirim laporan harga-harga barang ke Kementerian Perdagangan secara online.

“Kami sudah kantongi semua harga-harga barang, sementara direkap. Mulai dari sayur mayur sampai ke beras. Yang naik signifikan itu bawang merah dan bawang putih saja,” katanya. (bur)

share on:

Leave a Response