Terbukti Perdagangkan Amunisi, Hakim Vonis SS 18 Bulan Penjara

share on:
suasana vonis sidang perdagangan amunisi di PN Timika Foto : Ryeno guritno/ HP

Timika, HP

Dalam sidang putusan perdagangan amunisi dengan tersangka Sami Sapteno  (SS) alias Yahuda hakim Pengadilan Negeri (PN) Kota Timika memvonis dengan hukuman kurungan selama 1 tahun 6 bulan (18 bulan). Vonis tersebut dibacakan oleh hakim PN Timika Fransiscus Y Babthista dalam persidangan yang berlangsung Rabu (10/7).

Yahuda terbukti bersalah atas kasus yang menimpa dirinya, dan vonis tersebut enam bulan lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum, Habibie Anwar yakni selama dua tahun.

Berdasarkan sejumlah persidangan yang telah berjalan, Hakim Fransiscus Babthista menyimpulkan, atas keterangan enam saksi termasuk ahli dan terpidana, perdagangan amunisi pada Februari 2018 silam tersebut benar terjadi. Perdagangan amunisi itu berupa peluru kaliber 38 mm, 5,56 mm dan 7,62 mm.

“Mengingat para ahli membenarkan bahwa amunisi yang terdakwa perdagangkan adalah amunisi aktif. Ahli juga berkesimpulan bahwa terdakwa tidak mempunyai izin untuk menguasai amunisi,” jelas Hakim.

Berdasarkan sejumlah persidangan yang pernah berjalan, Yahuda memperdagangkan amunisi melalui salah satu saksi dalam perkara ini, Titus Kwalik. Dari perdagangan 160 butir peluru, seluruhnya menghasilkan uang senilai Rp 16 juta atau setara Rp 100 ribu per satu pelurunya. Transaksi ini terjadi di salah satu kebun di SP 5 milik Titus Kwalik dalam empat kali transaksi.

Hakim Fransiscus Babthista menegaskan, Yahuda bersalah dan melanggar pasal 1 ayat 1 UU Darurat No 12 Tahun 1951. “Terdakwa bersalah terbukti tanpa hak membawa amunisi ke NKRI dan menjatuhkan pidana selama satu tahun dan enam bulan dikurangi masa tahanan yang sudah dijalani,” katanya.

Barang bukti berupa 72 peluru kaliber 5,56 warna kuning, sepuluh butir peluru aktif bertuliskan tim 5,56 sampai satu pucuk air softgun bernomor 3124499 warna coklat dan dua buah magazin dan dilengkapi tabung dikembalikan ke pihak yang berwajib.

Meskipun hakim memberikan waktu sampai tujuh hari untuk mempertimbangkan putusan tersebut, Penasehat Hukum Yahuda, Ruben Hohakay memastikan vonis yang hakim putuskan dapat pihaknya terima. Ia memastikan tidak akan ada pengajuan banding.

Sementara itu pengacara tervonis yaitu Ruben Hohakai saat ditemui usai persidangan mengatakan bahwa vonis tersebut menerimanya karena dinilai sudah memenuhi memenuhi rasa keadilan yang ada di masyarakat. Sehingga tidak melakukan upaya hukum lainnya

“Dari tuntutan 2 tahun dan hakim mempertimbangkan dari segala aspek sehingga vonis 1 tahun 6 bulan tersebut bagi kami sudah memenuhi unsur keadilan,” ungkapnya.(reg)

share on:

Leave a Response